Minggu, 11 Oktober 2020

     Kesehatan mental dengan keadaan jiwa dan batin seseorang. Kesehatan mental seseorang dapat mempengaruhi kinerjanya pada aktivitas sehari-hari. Orang yang memilik kesehatan mental yang baik, akan mudah menerima energi positif dari lingkungannya. Sebaliknya, orang yang memiliki kesehatan mental yang kurang baik, pikirannya cenderung akan menuju ke hal-hal buruk. Kesehatan mental ini jenisnya bermacam-macam, mulai dari depresi, stress, bipolar, gangguan kecemasan, dan lain-lain. Hal-hal seperti ini harus mendapatkan perhatian khusus. 

    Menurut data yang dikeluarkan oleh World Health Organization, sekitar 20 anak-anak dan remaja mengalami gangguan mental. Dan lebih dari 800.000 orang meninggal setiap tahunnya diakibatkan karena bunuh diri. Hal ini menunjukan bahwa, masalah kesehatan mental tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah yang remeh dan enteng. Namun, sangat disayangkan bahwa sebagian orang masih menganggap bahwa masalah kesehatan mental merupakan masalah yang remeh dan dapat diselesaikan semudah membalikkan telapak tangan. 

    Fenomena mental issues ini kian marak diperbincangkan dan menjadi perdebatan akhir-akhir ini. Masyarakat Indonesia sudah mulai aware dengan mental health issues. Mereka sadar bahwa kesehatan mental ini benar-benar hal yang penting. Penyelesaian masalah kesehatan mentalpun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Melainkan, hal tersebut membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang bagi si penderita. 

    Sesuai dengan paragraf sebelumnya, masih ada saja orang-orang yang menganggap kesehatan mental ini sebagai hal yang memiliki penyelesaian dengan mudah. Sebagian stigma yang beredar di masyarakat mengenai kesehatan mental ini adalah orang yang memiliki masalah kesehatan mental akan dinilai sebagai orang yang tidak taat kepada ajaran agamanya. Oleh karena itu, orang yang memiliki pandangan seperti itu akan menyarankan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, pada faktanya, faktor-faktor eksternal berperan besar dalam masalah kesehatan mental seseorang. Tidak jarang bahwa seorang penderita kesehatan mental akan dihakimi oleh masyarakat luar. Hal-hal tersebutlah yang terkadang membuat si penderita enggan untuk berobat atau menemui orang yang ahli pada bidang psikologi karena khawatir akan dianggap sebagai orang gila atau orang yang tidak waras. 

    Berbicara mengenai kesehatan mental, kebetulan saya berada di sekeliling orang yang mempunyai masalah kesehatan mental, mulai dari gangguan kecemasan berlebih, gangguan depresi, dan lain-lain. Orang yang memiliki gangguan kecemasan berlebih atau yang biasa disebut dengan overthink biasanya akan kalut dalam pikiran-pikirannya sendiri mengenai hal-hal buruk yang dapat terjadi pada dirinya sendiri dan juga sekelilingnya. Orang yang memiliki gangguan ini sangat mudah cemas jika tidak mendapatkan kabar yang pasti yang dapat membuatnya menjadi tenang. Gangguan mental ini yang paling banyak ditemui di masyarakat sekarang, khususnya para generasi milenial atau generasi Z. 

    Gangguan kesehatan mental lainnya yaitu depresi. Orang pengidap depresi ini biasanya memiliki perilaku yang cenderung tidak terkontrol. Hal yang lumayan banyak bisa ditemui di lapangan mengenai tingkah laku orang depresi adalah self harming. Berdasarkan wawancara saya dengan salah seorang pengidap gangguan mental, self harming dilakukan oleh orang-orang pengidap gangguan mental bertujuan untuk mengalihkan pikiran mereka atau melepaskan kepenatan yang ada dalam pikirannya. Hal tersebut tentu dapat melukai diri sendiri dan bahkan bisa membahayakan diri sendiri dan juga orang lain. 

    Sudat saatnya masalah mengenai kesehatan mental ini memiliki perhatian khusus. Masyarakat yang belum bisa memahami mengenai kesehatan mental tidak sepatutnya menghakimi orang yang mengidap masalah kesehatan mental dengan stigma-stigma tersebut. Saya sebagai penulis memberikan saran kepada kita semua untuk meningkatkan rasa awareness kita terhadap isu ini. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan awareness kita terhadap isu ini adalah dengan banyak-banyak membaca literasi yang berhubungan dengan kesehatan mental. Dengan begitu, jika kita berinteraksi dengan orang pengidap masalah kesehatan mental atau bahkan kita sendiri tanpa kita sadari memiliki perilaku yang serupa, kita bisa mengetahui langkah tepat apa yang seharusnya kita lakukan untuk mengatasi masalah kesehatan mental tersebut. 

Sabtu, 10 Oktober 2020

Hallo !!

Perkenalkan, Namaku Jiyan Nafis Dewantara. Disini aku ingin berbagi cerita ke temen-temen mengenai pentingnya memahami kondisi diri sendiri serta bagaimana carany kita menghargai diri sendiri. 

Bahasan kita ini tidak jauh-jauh dengan masalah insecurity. 

Apa sih insecurity itu ? Menurut pandanganku sendiri, Insecurity ini merupakan suatu keadaan dimana kita berada dalam fase yang merasa rendah diri karena suatu hal yang kita anggap sebagai kekurangan. Orang-orang yang sedang dalam fase ini biasanya cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Tak jarang, sebagian dari orang-orang yang masih mengalami insecurity, tidak mau bertemu dengan orang lain selain dengan orang-orang yang dianggap paling dekat dan bisa memahami kondisinya. Kebetulan... Aku juga terkadang berada di posisi di mana aku merasa tidak percaya diri dengan kekuranganku. Akhirnya aku lebih sering menghabiskan waktu-waktuku sendiri. Jikapun aku bermain, aku akan bermain dengan teman-teman yang sekiranya tidak akan memperdulikan kekuranganku tersebut. Duh, kok malah jadi curhat ya ? he he

Lanjut curhat aja gapapa ya ^^

Jadi temen-temen, kebetulan aku ini termasuk orang yang dijadikan sebagai, istilahnya 'tempat penampungan keluh kesah dari orang-orang', baik itu keluarga, teman dekat, ataupun yang lainnya. Akibat dari hal tersebut, aku banyak bertukar pikiran dengan orang lain, bertukar 'perasaan' dengan orang lain, berinteraksi secara intens dengan orang lain, dan hal-hal lainnya. Dengan banyak melakukan interaksi dengan orang lain, ada satu benang merah yang baru aku sadari. Ternyata, semua orang pasti memiliki ceritanya masing-masing. Setiap orang pasti memiliki kekhawatiran terhadap suatu hal masing-masing. Setiap orang memiliki titik ketidak percayaan pada suatu hal tertentu (At least kalimat tersebut berdasarkan pengalaman-pengalamanku ketika aku berinteraksi dengan orang lain). Untuk mengurangi perasaan insecurity, kita harus menyanyangi diri sendiri. Jadikan perasaan insecurity tadi sebagai pacuan untuk menjadi lebih baik ke depannya